Sabtu, 20 Februari 2016

LIMNOCHARIS FLAVA




Banyak tanaman sayuran, yang selain enak untuk dikonsumsi sehari – hari juga berkhasiat obat.

Siang ini, saya browsing tentang tanaman Limnocharis flava. Pertama , saya buka wikipedia. Biasanya untuk belajar ilmiah di perguruan tinggi, sumber dari wikipedia tidak diperbolehkan, mesti dari jurnal – jurnal penelitian internasional yang bonafid.

Sebagai penyuka dunia herbal amatiran,   saya terbiasa  mencari sumber dari wikipedia terlebih dahulu, melihat catatan kaki di wikipedia, lalu sumber – sumber lain.

Membaca tentang Limnocharis flava di wikipedia kali ini, membuat saya agak tertegun. Pernah sedikit – sedikit mengenal bahasa eufemisme, hiperbola, analogi, satire,  pasemon, dll….., membuat saya agak tergreget  membaca yang satu ini. Serasa ada drama ( lebaynya kumat… ).

Silahkan saja ini dibaca :
Genjer (dibaca gènjèr) atau paku rawan (Limnocharis flava) adalah sejenis tumbuhan rawa yang banyak dijumpai di sawah atau perairan dangkal. Biasanya ditemukan bersama-sama dengan eceng gondok. Genjer adalah sumber sayuran "orang miskin", yang dimakan orang desa apabila tidak ada sayuran lain yang dapat dipanen. Dalam bahasa internasional dikenal sebagai limnocharis, sawah-flower rush, sawah-lettuce, velvetleaf, yellow bur-head, atau cebolla de chucho. Nama "paku rawan" agak menyesatkan karena genjer sama sekali bukan anggota tumbuhan paku.
Terna tahunan yang dapat mencapai tinggi setengah meter ini mudah ditemukan di perairan dangkal seperti sawah atau rawa; rimpang tebal dan tegak, terbenam dalam lumpur; daun tegak atau miring, tidak mengapung (berbeda dari eceng gondok), tangkainya panjang dan berlubang, helainya bervariasi bentuknya; mahkota bunga berwarna kuning dengan diameter 1.5cm, kelopak bunga hijau.
Tumbuhan ini dapat menjadi gulma sawah yang serius jika tidak ditangani segera. Pemanfaatannya dapat membantu mengendalikan populasinya. Walaupun biasanya tidak intensif dibudidayakan, perbanyakan dapat dilakukan secara vegetatif walaupun bijinya pun dapat ditanam. Tumbuhan ini berbunga sepanjang tahun.
Perannya sebagai makanan rakyat miskin digambarkan dalam lagu populer berbahasa Osing yang diciptakan oleh seniman asal Banyuwangi, Muhammad Arief, pada tahun 1940-an, Genjer-genjer. “
Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Genjer

Haduh….mungkin sebenarnya semua itu hanya harafiah saja. Mungkin saya saja yang membacanya sambil baper.

Ya sudahlah, apapun itu..... saya yakin tulisan sedikit renyah banyak melempem kerupuk saya ini sama sekali  tidak akan membawa pengaruh  seupritpun terhadap perpolitikan di korea utara, rusia, apalagi isis 
( hadeh...).

Beruntung banget hidup di komunitas medsos Indonesia. Bincang apapun mulai dari remeh – temeh, sayuran, plastik, agak politik, klenik,  spiritual, hingga sara......,  begitu riang, gembira,menari - nari,  bahagia, penuh syukur, toleran, saling menghargai, dan damai.

Loh…malah belum jadi membaca jurnal.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar