Banyak tanaman sayuran, yang
selain enak untuk dikonsumsi sehari – hari juga berkhasiat obat.
Siang ini, saya browsing tentang
tanaman Limnocharis flava. Pertama , saya buka wikipedia. Biasanya untuk
belajar ilmiah di perguruan tinggi, sumber dari wikipedia tidak diperbolehkan,
mesti dari jurnal – jurnal penelitian internasional yang bonafid.
Sebagai penyuka dunia herbal amatiran,
saya terbiasa mencari sumber dari wikipedia terlebih dahulu,
melihat catatan kaki di wikipedia, lalu sumber – sumber lain.
Membaca tentang Limnocharis flava
di wikipedia kali ini, membuat saya agak tertegun. Pernah sedikit – sedikit mengenal
bahasa eufemisme, hiperbola, analogi, satire, pasemon, dll….., membuat saya agak tergreget
membaca yang satu ini. Serasa ada drama ( lebaynya kumat… ).
Silahkan saja ini dibaca :
“Genjer (dibaca gènjèr) atau paku rawan (Limnocharis
flava) adalah sejenis tumbuhan rawa yang banyak dijumpai di sawah atau perairan
dangkal. Biasanya ditemukan bersama-sama dengan eceng
gondok. Genjer adalah sumber sayuran "orang miskin", yang dimakan orang desa
apabila tidak ada sayuran lain yang dapat dipanen. Dalam bahasa internasional
dikenal sebagai limnocharis, sawah-flower rush, sawah-lettuce,
velvetleaf, yellow bur-head, atau cebolla de chucho. Nama
"paku rawan" agak menyesatkan karena genjer sama sekali bukan anggota
tumbuhan
paku.Terna tahunan yang dapat mencapai tinggi setengah meter ini mudah ditemukan di perairan dangkal seperti sawah atau rawa; rimpang tebal dan tegak, terbenam dalam lumpur; daun tegak atau miring, tidak mengapung (berbeda dari eceng gondok), tangkainya panjang dan berlubang, helainya bervariasi bentuknya; mahkota bunga berwarna kuning dengan diameter 1.5cm, kelopak bunga hijau.
Tumbuhan ini dapat menjadi gulma sawah yang serius jika tidak ditangani segera. Pemanfaatannya dapat membantu mengendalikan populasinya. Walaupun biasanya tidak intensif dibudidayakan, perbanyakan dapat dilakukan secara vegetatif walaupun bijinya pun dapat ditanam. Tumbuhan ini berbunga sepanjang tahun.
Perannya sebagai makanan rakyat miskin digambarkan dalam lagu populer berbahasa Osing yang diciptakan oleh seniman asal Banyuwangi, Muhammad Arief, pada tahun 1940-an, Genjer-genjer. “
Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Genjer
Haduh….mungkin sebenarnya semua itu hanya
harafiah saja. Mungkin saya saja yang membacanya sambil baper.
Ya sudahlah, apapun itu..... saya yakin tulisan
sedikit renyah banyak melempem kerupuk saya ini sama sekali tidak akan membawa pengaruh seupritpun terhadap
perpolitikan di korea utara, rusia, apalagi isis
( hadeh...).
Beruntung banget hidup di komunitas medsos Indonesia.
Bincang apapun mulai dari remeh – temeh, sayuran, plastik, agak politik, klenik, spiritual, hingga
sara......, begitu riang, gembira,menari - nari, bahagia,
penuh syukur, toleran, saling menghargai, dan damai.
Loh…malah belum jadi membaca jurnal.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar